Ringkasan: Leonid aktif 6–30 November 2026. Kalender internasional menempatkan puncaknya pada 17–18 November, sedangkan sebagian media Indonesia menulis malam 16–17 November. Laju teoretisnya sekitar 15 meteor per jam. Dari Indonesia, titik puncak versi IMO jatuh sekitar pukul 06.45 WIB pada 18 November, yaitu setelah matahari terbit. Jendela pengamatan terbaik karena itu adalah dini hari 17 dan 18 November, sebelum fajar.
Hujan meteor Leonid 16–17 November 2026 bisa capai 15 per jam. Angka itu terdengar menjanjikan. Tapi ada tiga hal yang menentukan apakah Anda benar-benar melihatnya: jam pengamatan, cahaya Bulan, dan awan.
Panduan ini merangkum jadwal dari sumber astronomi internasional dan media nasional. Lalu panduan ini menerjemahkannya ke waktu Indonesia.
Apa Itu Hujan Meteor Leonid dan Apa Arti “15 per Jam”?

Hujan meteor Leonid adalah rangkaian meteor yang tampak memancar dari rasi Leo setiap November. Sumbernya debu komet 55P/Tempel-Tuttle. Angka 15 per jam adalah ZHR, yaitu laju teoretis di langit sangat gelap dengan radian tepat di atas kepala.
ZHR bukan jumlah yang Anda hitung dari halaman rumah. Angka ini batas atas dalam kondisi ideal. Awan, lampu kota, dan Bulan memangkasnya.
Menurut NASA yang dikutip CNN Indonesia, meteor Leonid melaju sekitar 71 km/detik. Itu yang tercepat di antara hujan meteor besar. Kecepatan ini membuat jejaknya tipis dan singkat, dan beberapa di antaranya berupa bola api yang sangat terang.
Komet induknya mengorbit Matahari sekitar 33 tahun sekali, menurut NASA seperti dikutip media Indonesia. Siklus itulah yang pernah melahirkan badai meteor ribuan per menit pada 1966, sebagaimana dicatat EarthSky. Tahun 2026 bukan tahun badai. Sumber yang saya telaah semuanya memakai angka tahun normal.
Kapan Puncak Leonid 2026? Mengapa Tanggalnya Berbeda-beda

Puncak Leonid 2026 jatuh pada 17–18 November menurut kalender IMO dan sebagian besar sumber. Beberapa kalender menulis malam 16–17 November. Perbedaannya bukan kesalahan. Sumber memakai zona waktu dan cara penamaan malam yang berlainan.
Berikut perbandingan yang saya temukan per 3 November 2026:
| Sumber | Tanggal/waktu puncak yang disebut | Catatan |
| IMO (dikutip Star Walk dan Ondatravel) | 17 November, 23.45 UT | Maksimum nodal |
| EarthSky (merujuk AMS) | 18 November, 00.00 UT | Prediksi puncak |
| American Meteor Society | Malam 16–17 November | Bulan sekitar 45% terang |
| afu.id (via ringkasan Archyde) | 16–17 November | Menyebut IDN Times menulis 17–18 |
| Situs astronomi umum lain | 17–18 November | Mayoritas |
Satu situs lain menyebut puncak sekitar 06.00 UT pada 17 November. Angka itu berbeda dari IMO dan EarthSky, jadi tidak saya pakai.
Kesimpulan praktisnya: aktivitas tinggi tidak terkunci pada satu jam. Leonid naik perlahan, memuncak, lalu turun. Malam-malam di sekitar puncak hampir sama baiknya.
Konversi ke WIB, WITA, dan WIT: Puncaknya Jatuh Saat Matahari Sudah Terbit

Puncak IMO 17 November pukul 23.45 UT setara 18 November pukul 06.45 WIB. Hitungannya sederhana: UT ditambah tujuh jam untuk WIB, delapan untuk WITA, sembilan untuk WIT. Ini konversi saya sendiri dari data IMO, bukan angka yang dirilis lembaga mana pun.
| Versi puncak | WIB | WITA | WIT |
| IMO: 17 Nov 23.45 UT | 18 Nov 06.45 | 18 Nov 07.45 | 18 Nov 08.45 |
| EarthSky: 18 Nov 00.00 UT | 18 Nov 07.00 | 18 Nov 08.00 | 18 Nov 09.00 |
Di hampir seluruh Indonesia, jam-jam itu sudah siang hari. Meteor di langit terang tidak terlihat. Artinya, kita tidak menonton puncaknya secara langsung.
Yang bisa kita lakukan adalah mengamati beberapa jam sebelumnya. Aktivitas sudah tinggi dan radian di rasi Leo sudah naik. Rencana paling masuk akal:
- Dini hari 18 November: paling dekat dengan puncak.
- Dini hari 17 November: cadangan kedua. EarthSky menyebut pagi 17 November juga layak dicoba.
- Dini hari 16 November: untuk yang mengikuti kalender 16–17.
Sebagai pembanding, Planetarium Jakarta pada 2023 menyarankan jendela sekitar pukul 00.21 hingga 05.00 WIB, dikutip CNN Indonesia. Itu data 2023, tetapi polanya sama: setelah tengah malam hingga menjelang fajar.
Efek Bulan: Kuartir Pertama yang Terbenam Menjelang Tengah Malam

Bulan mencapai fase kuartir pertama pada 17 November 2026 pukul 11.48 UT, menurut EarthSky. Itu sekitar pukul 18.48 WIB. Tingkat terangnya dilaporkan 45% sampai 54%, tergantung sumber.
Bulan setengah terang cukup untuk menenggelamkan meteor lemah di awal malam. Kabar baiknya, Bulan fase ini terbenam sekitar tengah malam atau sebelumnya. Star Walk menulis bahwa Bulan tenggelam sebelum tengah malam dan tidak mengganggu pengamatan sesudahnya.
Jam terbenam persisnya berbeda di tiap kota. Cek lewat aplikasi seperti Stellarium atau Sky Tonight untuk lokasi Anda.
Artinya, strategi sederhana ini bekerja:
- Jangan mulai sebelum Bulan terbenam.
- Pilih jam setelah tengah malam sampai fajar.
- Hadap area langit yang jauh dari Bulan jika Anda terpaksa mengamati lebih awal.
Berapa Meteor yang Realistis Terlihat dari Indonesia?

Jawaban jujurnya: kemungkinan lebih sedikit dari 15 per jam. EarthSky menulis bahwa di langit gelap tanpa Bulan Anda bisa melihat 10 sampai 15 meteor Leonid per jam. EarthSky juga menyebut angka tahun 2026 akan lebih rendah karena Bulan kuartir pertama.
Tiga hal menekan hitungan Anda:
- Polusi cahaya. Langit kota menghapus meteor redup.
- Awan. Satu lapis tipis pun mengurangi jumlah meteor.
- Waktu. Di luar jendela terbaik, laju turun.
Perkiraan saya, hitungan nyata di pinggiran kota bisa jauh di bawah angka teoretis. Angka ini tidak bisa saya pastikan lebih jauh. Tidak ada rilis resmi Indonesia untuk 2026 yang memberi proyeksi hitungan lokal.
Yang menarik dari Leonid justru kualitasnya, bukan kuantitasnya. Planetarium Jakarta, dikutip CNN Indonesia, menyebut Leonid penting karena bola api dan meteor yang melesat dekat cakrawala. Satu meteor terang bisa meninggalkan kesan lebih kuat daripada selusin meteor redup.
Kecepatan 71 km/detik setara sekitar 255.600 km/jam. Sebagai gambaran besaran, ini kira-kira dua kali lipat kecepatan orbit Bumi sekitar 107 ribu km/jam. Keduanya ukuran berbeda, jadi bandingkan hanya sebagai skala.
7 Fakta Terverifikasi tentang Leonid 2026

| # | Fakta | Sumber |
| 1 | Aktif 6–30 November 2026 | IMO, dikutip Pixidia dan Star Walk |
| 2 | Komet induk: 55P/Tempel-Tuttle | NASA, dikutip media Indonesia dan Star Walk |
| 3 | Orbit komet sekitar 33 tahun | NASA via JatimTimes; Ondatravel |
| 4 | Kecepatan sekitar 71 km/detik | NASA via CNN Indonesia |
| 5 | Radian di rasi Leo (deklinasi sekitar +21,8°) | American Meteor Society |
| 6 | ZHR sekitar 15 per jam di tahun normal | IMO, AMS |
| 7 | Badan meteor 1966: ribuan per menit selama sekitar 15 menit | EarthSky |
Angka di tabel adalah fakta dari sumber. Bukan hasil pengamatan kami, dan tidak ada data pengujian internal di artikel ini.
Cuaca: Awan adalah Risiko Terbesar di Awal Musim Hujan

Pengamatan Leonid jatuh pada pergantian musim. BMKG memprakirakan 185 zona musim, atau 24,66% daratan Indonesia, memasuki musim hujan pada November 2026. Informasi itu disampaikan Kepala BMKG dalam konferensi pers 22 September 2026, seperti dikutip CNBC Indonesia dan beberapa media nasional.
BMKG juga memprediksi awal musim hujan mundur di 529 zona musim, atau 61,08% wilayah. Penyebabnya El Niño dan IOD, menurut laporan Bisnis.com. Puncak musim hujan diperkirakan Desember 2026 sampai Februari 2027.
Untuk dasarian pertama November, BMKG mencatat 67,62% wilayah berada pada kategori curah hujan menengah dan 30,57% kategori rendah, dikutip IDXChannel. BMKG juga memperingatkan potensi awan konvektif di area dengan konvergensi massa udara.
Praktisnya: jangan menetapkan lokasi jauh hari. Tentukan satu lokasi utama dan satu cadangan. Cek prakiraan awan malam sebelumnya, lalu sekali lagi sebelum berangkat.
Cara Mengamati Leonid Step by Step

Cara mengamati Leonid dari Indonesia: 1) pilih langit gelap, 2) tunggu Bulan terbenam, 3) datang sebelum pukul 03.00 WIB, 4) berbaring menghadap area luas langit timur, 5) amati minimal 30 menit tanpa layar ponsel.
- Pilih lokasi. Pinggiran kota, pantai, atau lapangan terbuka jauh dari lampu. Kriteria lokasi bebas polusi cahaya yang dipakai saat gerhana bulan Maret 2026 berlaku sama di sini.
- Cek awan. Gunakan prakiraan BMKG atau citra satelit malam sebelumnya.
- Perhatikan Bulan. Mulai setelah Bulan terbenam. Bulan di langit merusak adaptasi mata.
- Datang lebih awal. Beri mata 20–30 menit untuk beradaptasi dengan gelap.
- Jangan terpaku pada Leo. Meteor muncul di mana saja. Tatap area luas, bukan satu titik.
- Matikan layar. Cahaya ponsel mereset adaptasi mata.
- Catat hitungan. Tulis jumlah meteor per 15 menit. Hitungan Anda sendiri lebih berguna daripada angka teoretis.
Tidak perlu teleskop. Mata telanjang adalah alat terbaik, karena teleskop menyempitkan bidang pandang. Panduan fenomena dini hari lain yang bisa jadi referensi: cara mengamati konjungsi Bulan-Mars tanpa alat bantu.
Kedua panduan memakai prinsip yang sama: lokasi gelap, tiba lebih awal, dan sabar.
Mengapa Posisi Indonesia Menguntungkan untuk Pengamatan Langit

Indonesia membentang dari sekitar 6° Lintang Utara sampai 11° Lintang Selatan. Ulasan tentang letak astronomis Indonesia di 6°LU–11°LS menjelaskan mengapa posisi ini memberi akses ke langit utara dan selatan dari satu titik.
Untuk Leonid, posisi itu berarti hujan meteor ini bisa dilihat dari seluruh Indonesia. Astronom amatir Marufin Sudibyo menyatakannya pada 2020 dalam liputan Kompas TV. Syaratnya langit cerah dan lokasi gelap.
Garis besar keunggulan geografis negeri ini juga dibahas di artikel tentang posisi lintang rendah Indonesia dan dampaknya pada fenomena alam. Itu konteks yang berguna untuk memahami mengapa fenomena langit relatif konsisten bisa disaksikan dari sini.
Kesalahan Umum Saat Mengamati Hujan Meteor

Ada beberapa kekeliruan yang sering membuat orang pulang kecewa.
Datang tepat di jam puncak. Untuk Leonid 2026, jam puncak versi IMO jatuh saat matahari sudah terbit di Indonesia. Datang di jam itu berarti melihat langit biru.
Menunggu angka 15. ZHR adalah batas atas teoretis. Bulan, awan, dan lampu kota menurunkannya.
Mengamati terlalu cepat. Bulan kuartir pertama masih ada di langit sampai sekitar tengah malam atau sebelumnya. Mengamati sebelum itu mengurangi jumlah meteor yang terlihat.
Menyerah setelah 10 menit. Meteor datang dalam kelompok tak teratur. Bisa tiga sekaligus, lalu sepi lima menit.
Mengandalkan satu malam. Aktivitas Leonid berlangsung 6–30 November. Malam-malam dekat puncak hampir sama baiknya, jadi ada cadangan jika awan menutup.
FAQ — Hujan Meteor Leonid 2026
Apa itu hujan meteor Leonid?
Hujan meteor Leonid adalah rangkaian meteor tahunan yang tampak berasal dari rasi Leo. Penyebabnya debu komet 55P/Tempel-Tuttle yang dilewati Bumi setiap November. Pada 2026 Leonid aktif 6–30 November dengan laju teoretis sekitar 15 meteor per jam.
Jam berapa waktu terbaik melihat Leonid di Indonesia?
1) Mulai setelah Bulan terbenam, sekitar tengah malam atau sebelumnya. 2) Amati dari dini hari hingga menjelang fajar. 3) Prioritaskan dini hari 17 dan 18 November. 4) Hindari menunggu jam puncak, karena versi IMO jatuh sekitar 06.45 WIB, setelah matahari terbit.
Apakah Leonid 2026 benar-benar bisa 15 meteor per jam?
Itu angka ZHR, yaitu laju teoretis di langit sangat gelap. EarthSky menyebut 10–15 per jam tanpa Bulan, dan menyebut hitungan 2026 akan lebih rendah karena Bulan kuartir pertama. Dari Indonesia, awan dan polusi cahaya menurunkannya lebih jauh.
Apakah butuh teleskop atau alat khusus?
Tidak. Mata telanjang cukup. Teleskop dan binokular menyempitkan bidang pandang sehingga meteor justru terlewat. Yang dibutuhkan adalah lokasi gelap, waktu adaptasi mata, dan kesabaran minimal 30 menit.
Apakah Bulan akan mengganggu?
Sebagian. Bulan kuartir pertama menerangi awal malam dan menyamarkan meteor redup. Namun Bulan terbenam sekitar tengah malam atau sebelumnya, sehingga dini hari relatif gelap. Cek jam terbenam di lokasi Anda lewat aplikasi astronomi.
Ditulis oleh Tim Redaksi warnetforum. Sumber utama: kalender IMO dan AMS, EarthSky, Star Walk, CNN Indonesia, Kompas TV, serta prakiraan BMKG yang dikutip CNBC Indonesia, Bisnis.com, dan IDXChannel.



