Ringkasan: Kapal induk hibah Italia, ITS Giuseppe Garibaldi-551, memasuki perairan Indonesia melalui Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I pada 17 September 2026, dikawal dua fregat TNI AL kelas Brawijaya. Kapal ini dijadwalkan bersandar di Tanjung Priok pada 18 September 2026 sebelum dikerahkan untuk misi kemanusiaan dan penanggulangan bencana.
Apa itu ALKI I dan Mengapa Garibaldi Melintasinya?

ALKI I adalah salah satu dari tiga Alur Laut Kepulauan Indonesia yang menghubungkan Laut China Selatan dengan Samudra Hindia lewat Selat Karimata, Laut Jawa, dan Selat Sunda. Menurut Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia, alur laut kepulauan adalah jalur yang boleh dilalui kapal atau pesawat asing untuk transit yang terus-menerus, langsung, dan secepat mungkin melintasi perairan kepulauan Indonesia. Penetapan tiga ALKI ini mengacu pada Konvensi Hukum Laut PBB 1982 (UNCLOS) dan disepakati Indonesia bersama sejumlah negara serta organisasi internasional, termasuk Malaysia, Singapura, Filipina, Amerika Serikat, dan International Maritime Organization.
ITS Giuseppe Garibaldi memilih ALKI I karena jalur ini merupakan rute transit resmi dan tercepat dari Sri Lanka menuju Jakarta, melewati perairan Selat Singapura, Batam, Bangka, hingga Selat Sunda. TNI AL menyebut rute ini “sangat aman” dan sudah direncanakan sejak awal perjalanan kapal.
Kronologi Perjalanan Giuseppe Garibaldi ke Indonesia

Berdasarkan keterangan resmi Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispenal), Laksamana Pertama TNI Tunggul, berikut rangkaian perjalanan kapal induk ini menuju Indonesia:
| Tanggal | Peristiwa |
|---|---|
| 24 Agustus 2026 | Berangkat dari Pangkalan Taranto, Italia |
| 12 September 2026 | Bertolak dari Pelabuhan Kolombo, Sri Lanka, setelah kunjungan kehormatan ke Angkatan Laut Sri Lanka dan pengisian logistik |
| 16 September 2026 | Melintasi perairan Batam dan Selat Singapura |
| 17 September 2026 | Memasuki ALKI I di Selat Sunda, berlayar di perairan Bangka dikawal dua fregat TNI AL |
| 18 September 2026 | Dijadwalkan bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara |
Kapal buatan galangan Fincantieri, Italia, ini merupakan kapal induk pertama yang dimiliki Indonesia — diperoleh melalui hibah dari Italia sebagai bagian dari kerja sama pertahanan kedua negara.
Kenapa TNI AL Mengawal Garibaldi Selama Melintasi ALKI I?

Kadispenal Tunggul menjelaskan bahwa pengawalan dilakukan oleh minimal dua kapal fregat Indonesia, yakni KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321, ditambah unsur udara dari Pusat Penerbangan TNI AL (Puspenerbal) berupa helikopter AS565 Panther serta pesawat CN-235 dan NC-212. Pengawalan ini berlangsung sejak kapal memasuki perairan Indonesia hingga bersandar di Tanjung Priok, dan sekaligus dimanfaatkan sebagai latihan bersama (PASSEX) antara TNI AL dan Angkatan Laut Italia.
Sebelum memasuki wilayah Indonesia, kapal ini dikawal oleh Angkatan Laut Italia selama berada di perairan negara lain. Format pengawalan ini menegaskan kedaulatan Indonesia atas ALKI I sekaligus menjadi ajang diplomasi maritim antara TNI AL dan mitra Italia — sesuatu yang relevan mengingat posisi silang Indonesia antara Asia dan Australia membuat perairan nasional selalu ramai dilintasi kapal-kapal asing dalam berbagai kapasitas, dari niaga hingga militer.
ALKI I dan Kepentingan Strategis Indonesia

Penetapan ALKI bukan sekadar aturan navigasi. Bagi Indonesia, jalur ini menyangkut kepentingan politik, ekonomi, dan pertahanan sekaligus — sebagai negara kepulauan pertama di dunia yang menetapkan alur laut kepulauan sendiri berdasarkan UNCLOS 1982. Ramainya lalu lintas kapal asing di ALKI I sejalan dengan status Indonesia sebagai salah satu posisi geografis paling diincar negara lain di dunia, karena menghubungkan dua kawasan ekonomi besar tanpa perlu memutar lewat perairan negara lain.
Ketegangan di selat-selat strategis lain, seperti yang berulang kali terjadi di Selat Hormuz, menjadi pengingat betapa krusialnya kendali dan pengamanan jalur laut bagi sebuah negara yang wilayahnya dilintasi rute pelayaran internasional. Indonesia menghadapi dinamika serupa, meski dengan karakter geopolitik berbeda, karena ketiga ALKI-nya terus dilewati kapal niaga maupun kapal perang asing setiap hari. Kemunculan jalur perdagangan baru yang menghubungkan Asia, Australia, dan Samudra Hindia turut memperkuat posisi ALKI sebagai infrastruktur maritim yang tak tergantikan bagi konektivitas regional.
Namun posisi silang ini juga membawa konsekuensi keamanan. Sejumlah ancaman yang mengintai akibat letak geografis Indonesia — mulai dari pelanggaran wilayah hingga potensi eksploitasi jalur oleh pihak tak bertanggung jawab — membuat pengawalan ketat terhadap kapal asing sekelas kapal induk bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari penegakan kedaulatan di ALKI I.
Apa Selanjutnya untuk Giuseppe Garibaldi di Indonesia?

Setelah tiba di Tanjung Priok, kapal ini akan menjalani penyambutan resmi oleh sejumlah pejabat tinggi negara, termasuk Menteri Pertahanan dan Panglima TNI. TNI AL menyatakan kapal ini akan digunakan untuk Operasi Militer Selain Perang (OMSP), khususnya penanganan bencana dan bantuan kemanusiaan — termasuk rencana pengerahan untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, memanfaatkan kapasitasnya sebagai pangkalan terapung bagi helikopter. Kapal ini juga dijadwalkan tampil dalam Parade Laut memperingati HUT ke-81 TNI di Teluk Jakarta.
FAQ — Garibaldi dan ALKI I
Apa itu ALKI I?
ALKI I adalah jalur laut kepulauan Indonesia yang menghubungkan Laut China Selatan dengan Samudra Hindia melalui Selat Karimata, Laut Jawa, dan Selat Sunda, ditetapkan berdasarkan UU No. 6/1996 dan UNCLOS 1982 sebagai rute transit resmi kapal dan pesawat asing.
Kapan Giuseppe Garibaldi melintasi ALKI I?
Kapal ini memasuki ALKI I di Selat Sunda pada 17 September 2026, setelah sebelumnya melintasi Batam dan Selat Singapura pada 16 September 2026, dan dijadwalkan tiba di Tanjung Priok, Jakarta, pada 18 September 2026.
Siapa yang mengawal Garibaldi saat memasuki perairan Indonesia?
TNI AL mengerahkan dua fregat kelas Brawijaya — KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321 — serta unsur udara Puspenerbal berupa helikopter AS565 Panther dan pesawat CN-235/NC-212.
Ditulis oleh Redaksi Warnetforum, disusun dari keterangan resmi Kadispenal TNI AL dan pemberitaan ANTARA, IDN Times, Indo Maritim, Sinata.id, dan Delik Asia.