Ringkasan: Proyeksi USAID (2016) memperkirakan 2.000 pulau kecil Indonesia akan tenggelam sebelum 2050 akibat kenaikan muka air laut hingga 90 cm — menempatkan 42 juta jiwa dalam risiko. Sulawesi tercatat memiliki Coastal Vulnerability Index tertinggi menurut Bappenas (2021), sementara Pantura Jawa menghadapi ancaman ganda dari kenaikan laut dan penurunan tanah ekstrem. Artikel ini memetakan wilayah paling berisiko berdasarkan data BRIN, Bappenas, dan riset The Conversation.
Apa Itu Ancaman Tenggelamnya 2.000 Pulau Kecil Indonesia?

Indonesia memiliki lebih dari 17.508 pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, namun ribuan di antaranya kini berdiri di atas muka air laut yang terus merangkak naik. Proyeksi dari USAID (2016) menyebutkan kenaikan permukaan air laut setinggi 90 cm pada 2050 akan menenggelamkan sedikitnya 2.000 pulau kecil — sebuah angka yang dikonfirmasi ulang oleh Deputi Kemenko Marves Nani Hendiarti dalam lokakarya pesisir September 2022.
Angka 2.000 ini merujuk pada pulau-pulau berketinggian rendah — mayoritas di bawah 2 meter di atas permukaan laut — yang tersebar di Maluku, Kepulauan Seribu, NTT, hingga Riau. Berbeda dengan ancaman di kota besar seperti Jakarta, pulau-pulau ini tidak memiliki infrastruktur penahan banjir maupun pompa air. Sekali terendam, statusnya sebagai daratan hilang secara permanen.
Yang lebih mengkhawatirkan: Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam kajian tersendiri memperkirakan 115 pulau kecil dan sedang akan tenggelam sebelum 2100 — dengan 92 di antaranya spesifik karena kenaikan muka air laut, bukan abrasi atau faktor geologi.
Mengapa Ancaman Ini Lebih Serius dari yang Dibayangkan di 2026?

Masalahnya bukan sekadar naiknya air laut. Ada dua faktor yang bekerja bersamaan — dan kombinasinya jauh lebih destruktif.
Pertama: kenaikan permukaan air laut global. Sejak era pra-industri, muka laut global telah naik sekitar 21–24 cm (The Conversation / data global). Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan kenaikan ini akan terus berlanjut bahkan jika pemanasan global berhasil dibatasi di angka 1,5 derajat Celsius.
Kedua: penurunan muka tanah (land subsidence). Di sinilah Indonesia menghadapi masalah yang unik. Peneliti BRIN Eddy Hermawan menyebut ancaman penurunan tanah dua kali lipat lebih berbahaya dari kenaikan laut itu sendiri. Pekalongan mencatat penurunan tanah hingga 11 cm per tahun. Semarang 6 cm per tahun. Jakarta — akibat ekstraksi air tanah berlebihan — mengalami penurunan hingga 25 cm per tahun di beberapa titik, sehingga 14 persen wilayahnya kini sudah berada di bawah permukaan laut.
Kombinasi dua faktor ini membuat banjir rob yang tadinya hanya terjadi saat musim tertentu kini menjadi fenomena hampir sepanjang tahun di sejumlah kota pesisir. Ini bukan proyeksi masa depan — ini sudah terjadi sekarang.
Data Bappenas (2021) melalui Coastal Vulnerability Index (CVI) menunjukkan panjang garis pantai dengan kerentanan tertinggi (indeks 5) mencapai 1.819 km di seluruh Indonesia. Pulau Sulawesi memegang rekor dengan garis pantai berkerentanan tinggi sepanjang 904,51 km — terpanjang di antara semua pulau besar.
Peta 7 Wilayah Paling Berisiko Tenggelam Sebelum 2050

Berdasarkan sinthesis data dari BRIN, Bappenas (CVI 2021), riset The Conversation, dan laporan Kemenko Marves, berikut pemetaan wilayah dengan risiko tertinggi:
| # | Wilayah | Faktor Risiko Utama | Estimasi Dampak | Sumber |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Sulawesi (Mamuju, Donggala, Gorontalo) | CVI tertinggi (904 km garis pantai berisiko) | Kabupaten Mamuju Utara, Tengah, dan Selatan terancam | Bappenas CVI, 2021 |
| 2 | Pantura Jawa (Jakarta, Semarang, Pekalongan) | Land subsidence + kenaikan laut ganda | Jakarta: 160,4 km² (24,3%) terendam permanen 2050 | BRIN / Espos.id, 2022 |
| 3 | Kepulauan Maluku | Pulau kecil berdimensi rendah, tanpa infrastruktur mitigasi | Ratusan pulau kecil berpotensi hilang | KKP, 2019 |
| 4 | Pulau Kecil Terluar (83 dari 92) | Luas < 100 km², lebar < 3 km — kategori “very small island” | 90% pulau terluar masuk zona kritis | Dinas Hidro-Oseanografi TNI-AL, 2006 |
| 5 | Kepulauan Riau & Batam | Abrasi + rob + penurunan tanah | Pulau Nipa, Putri, Pelampong terancam tenggelam | KKP |
| 6 | Bali Pesisir Utara | Kenaikan laut + erosi pantai tanpa mangrove buffer | 490 km² daratan diprediksi hilang 2050 | Okezone / riset geodesi, 2022 |
| 7 | Banda Aceh & Pesisir Aceh | Topografi rendah pasca-tsunami 2004, minim pemulihan | 3% wilayah Banda Aceh tenggelam permanen 2050 | TDMRC Unsyiah, 2020 |
Pulau Terluar: Bukan Sekadar Soal Tempat Tinggal

Di sinilah ancaman tenggelamnya pulau kecil bertabrakan langsung dengan hukum internasional. Pulau Miangas — titik paling utara Indonesia — adalah salah satu contoh nyata betapa strategisnya satu pulau kecil. Pulau seperti ini bukan sekadar daratan berpenghuni, melainkan basepoint — titik patokan untuk menarik garis pangkal kepulauan (archipelagic baseline) yang menentukan luas seluruh wilayah perairan Indonesia.
Menurut UNCLOS 1982 yang diikuti Indonesia, garis batas ZEE dan laut teritorial ditarik dari titik-titik terluar pulau. Jika sebuah basepoint tenggelam secara permanen, Indonesia secara hukum harus mencari titik alternatif atau kehilangan klaim atas zona maritim yang bersumber dari titik tersebut. Studi The Conversation (2023) mencatat 92 pulau terluar Indonesia berpotensi tenggelam akibat kenaikan muka air laut — dan banyak ketinggian dari basepoints tersebut belum terpublikasi secara resmi.
Artinya, selain kehilangan tempat tinggal bagi jutaan warga pesisir, Indonesia menghadapi risiko hukum yang nyata: penyusutan wilayah kedaulatan maritim secara permanen.
Data Konkret: Seberapa Cepat Pulau-Pulau Ini Menyusut?

Riset lapangan dari The Conversation (dipublikasikan ulang Juni 2025) memberikan gambaran yang lebih konkret dari sekadar proyeksi model:
- Pulau Biawak, Indramayu: Kehilangan daratan 0,22 km²/tahun. Jika muka air naik 0,5 meter, setengah pulau seluas 120 hektare ini akan tenggelam.
- Pulau Candikian & Gosong, Indramayu: Luas tersisa hanya beberapa meter persegi. Ketinggian daratan tidak lebih dari 2 meter di atas muka laut.
- Pulau Kelor, Kepulauan Seribu Jakarta: Dari 1,5 hektare di tahun 1980 menyusut menjadi hanya 1 hektare akibat abrasi dan kenaikan muka laut.
- Papua (catatan suhu ekstrem): Suhu permukaan Papua menyentuh 38,4°C per 27 Oktober 2024 — rekor tertinggi nasional yang terdokumentasi, memperparah percepatan pencairan gletser Papua yang diperkirakan cair total sebelum 2027.
Studi yang sama mencatat bahwa sekalipun upaya mitigasi global dilakukan secara optimal, muka laut diprediksi tetap akan naik minimal 0,6 meter pada 2100 — dengan skenario terburuk mencapai 1,1 meter.
Dampak Ekonomi yang Sering Diabaikan
Angka 42 juta jiwa yang disebutkan USAID sering dikutip. Yang jarang disebut adalah dampak ekonominya.
Sri Mulyani dalam HSBC Summit 2022 memperkirakan kerugian ekonomi Indonesia akibat krisis iklim mencapai Rp 112,2 triliun atau 0,5% dari PDB pada 2023 — dan angka itu bisa melonjak ke kisaran 0,62–3,45% PDB pada tahun 2030 menurut dokumen kebijakan pembangunan tangguh iklim.
Di luar kerugian langsung, ada dampak tidak langsung yang bersifat permanen:
- Hilangnya mata pencaharian nelayan — ketidakpastian cuaca dan perubahan migrasi ikan mengancam 2,7 juta nelayan pesisir yang bergantung pada siklus alam (KKP, 2022).
- Kerusakan infrastruktur vital — rumah sakit, sekolah, dan jalan di pulau-pulau kecil tidak dirancang untuk menghadapi rob permanen.
- Intrusi air asin ke lahan pertanian — sawah di dataran rendah Pantura menghadapi ancaman salinasi yang menurunkan produktivitas hingga tidak bisa dipanen.
- Hilangnya objek wisata bahari — pulau kecil adalah tulang punggung industri wisata bahari yang pada 2019 menyumbang devisa US$ 17,6 miliar (Kemenparekraf, 2019).
- Potensi konflik sumber daya — 218 izin usaha pertambangan aktif di 34 pulau kecil per Desember 2023 (JATAM) justru mempercepat degradasi ekosistem yang menjadi benteng alami.
Ancaman ini tidak berdiri sendiri — letak geografis Indonesia yang menempatkan negeri ini di persimpangan Asia dan Australia sekaligus menjadikannya negara paling terdampak dari perubahan pola iklim global.
Mengapa Sulawesi Jadi Zona Merah Nomor Satu?

Bappenas (2021) secara spesifik mencatat Pulau Sulawesi memiliki garis pantai berkerentanan CVI tertinggi (indeks 5) sepanjang 904,51 km — melampaui Jawa, Sumatera, maupun Kalimantan.
Beberapa faktor yang membuat Sulawesi unggul dalam tingkat risiko:
- Geomorfologi pesisir: Sebagian besar garis pantai Sulawesi adalah dataran rendah alluvial tanpa bukit penahan alami di sisi barat dan tenggara.
- Tidak ada mangrove buffer: Konversi lahan mangrove untuk tambak udang dan industri perikanan di Sulawesi Selatan dan Tenggara menghilangkan pertahanan alami pantai.
- Kabupaten berisiko tinggi: Mamuju Utara, Mamuju Tengah, Mamuju (Sulawesi Barat); Donggala (Sulawesi Tengah); Kabupaten Gorontalo dan Pohuwato (Gorontalo) — semuanya masuk daftar wilayah terancam berdasarkan proyeksi topografi dan kenaikan muka laut.
- Konfluensi arus laut: Posisi Sulawesi yang diapit Laut Banda, Laut Sulawesi, dan Laut Maluku membuat tekanan gelombang pasang di wilayah ini lebih tinggi dari rata-rata nasional.
Ironinya, tantangan letak geografis Indonesia yang selama ini diidentifikasi sebagai sumber kerentanan bencana alam justru paling kentara di Sulawesi — pulau yang secara geologis memang paling dinamis di nusantara.
Apa yang Sudah dan Belum Dilakukan Pemerintah?

Kebijakan yang Sudah Ada
Indonesia tidak sepenuhnya diam. Beberapa kebijakan telah diterbitkan:
- UU No. 32/2014 tentang Kelautan secara eksplisit mengakui bencana kelautan akibat pemanasan global, termasuk kenaikan muka air laut.
- Dokumen Kebijakan Pembangunan Tangguh Iklim (2023) — menyebut proyeksi kerugian ekonomi dan urgensi adaptasi pesisir.
- Program Mangrove Nasional — pemerintah menargetkan rehabilitasi 600.000 hektare mangrove hingga 2024, meski realisasinya masih di bawah target.
- Kajian CVI Bappenas (2021) — pemetaan kerentanan yang menjadi dasar perencanaan tata ruang pesisir.
Yang Masih Kosong
- Belum ada mekanisme relokasi terstruktur bagi penduduk pulau kecil yang sudah masuk zona tenggelam.
- Data basepoint publik belum lengkap — ketinggian banyak titik pangkal garis batas ZEE Indonesia masih dirahasiakan atau belum diverifikasi ulang dengan teknologi terkini.
- Moratorium izin tambang di pulau kecil berjalan parsial. Per Desember 2023, JATAM mencatat 218 IUP aktif di 34 pulau kecil — jumlah yang meningkat dari tahun sebelumnya.
Peneliti The Conversation merekomendasikan tindakan yang lebih sistemik: penanaman vegetasi pantai seperti cemara laut (Casuarina equisetifolia) di pulau berpasir, rehabilitasi ekosistem mangrove sebagai buffer alami, dan pembatasan tegas aktivitas tambang di pulau dengan luas < 100 km².
Langkah Mitigasi yang Bisa Dimulai Sekarang

Tidak semua solusi membutuhkan anggaran besar. Beberapa langkah memiliki efektivitas tinggi dengan biaya rendah:
- Rehabilitasi mangrove skala desa — Satu hektare mangrove dewasa mampu meredam energi gelombang hingga 75% sebelum mencapai daratan (CIFOR, 2020).
- Penghentian ekstraksi air tanah berlebih — di Jakarta dan Pantura, ini adalah intervensi paling cepat untuk memperlambat land subsidence.
- Penanaman cemara laut di pulau berpasir — direkomendasikan untuk pulau-pulau di Taman Nasional Taka Bonerate, Sulawesi Selatan.
- Verifikasi dan pemutakhiran data basepoint — Kementerian Kelautan dan Kementerian Pertahanan perlu mempublikasikan ketinggian titik-titik pangkal terluar sebelum 2030.
- Moratorium IUP di pulau kecil — menghentikan 218 izin tambang aktif di pulau-pulau kecil yang kini justru mempercepat degradasi.
- Pemantauan real-time via satellite altimetry — Climate Central menyediakan peta interaktif di coastal.climatecentral.org yang bisa digunakan pemerintah daerah untuk memetakan risiko lokal.
- Integrasi ancaman pesisir ke RTRW — setiap revisi Rencana Tata Ruang Wilayah di kabupaten pesisir wajib memasukkan skenario kenaikan laut 0,6–1,1 meter.
Bencana alam di Indonesia sudah meningkat dalam satu dekade terakhir — dan ancaman tenggelamnya pulau kecil adalah salah satu bencana slow-onset yang paling sulit dilihat namun dampaknya bersifat ireversibel.
FAQ — 2000 Pulau Kecil Indonesia Terancam Tenggelam 2050
Berapa pulau Indonesia yang terancam tenggelam sebelum 2050?
Proyeksi USAID (2016) yang dikonfirmasi Kemenko Marves menyebut 2.000 pulau kecil berpotensi tenggelam sebelum 2050 akibat kenaikan muka air laut hingga 90 cm. BRIN secara terpisah memperkirakan 115 pulau kecil dan sedang akan hilang sebelum 2100, dengan 92 di antaranya disebabkan langsung oleh kenaikan muka air laut.
Wilayah mana di Indonesia yang paling berisiko tenggelam?
Berdasarkan Coastal Vulnerability Index (CVI) Bappenas 2021, Sulawesi memiliki garis pantai berkerentanan tertinggi (904,51 km). Selain itu, Pantura Jawa (Jakarta, Semarang, Pekalongan), Maluku, Kepulauan Riau, pesisir Bali, dan Banda Aceh masuk kategori berisiko tinggi sebelum 2050.
Apa dampak hukum jika pulau terluar Indonesia tenggelam?
Pulau terluar berfungsi sebagai basepoint untuk garis pangkal kepulauan di bawah UNCLOS 1982. Jika tenggelam permanen, Indonesia harus mencari titik alternatif atau berpotensi kehilangan klaim atas zona maritim (ZEE dan laut teritorial) yang ditarik dari titik tersebut — mengancam kedaulatan wilayah perairan yang luasnya mencapai 5,8 juta km².
Apakah penurunan tanah lebih berbahaya dari kenaikan air laut?
Menurut Peneliti BRIN Eddy Hermawan, ancaman penurunan muka tanah (land subsidence) dua kali lipat lebih berbahaya dibandingkan kenaikan laut saja. Pekalongan mencatat penurunan hingga 11 cm/tahun, Jakarta hingga 25 cm/tahun — jauh melampaui rata-rata kenaikan muka laut global yang sekitar 3–4 mm/tahun.
Ditulis berdasarkan data dari USAID (2016), Bappenas CVI (2021), BRIN, Kemenko Marves, The Conversation, Liputan6, dan Greeners.



